Minggu, 08 Januari 2012

Terompet dari bahan bekas


Tahun baru dan terompet memang sudah tidak dapat dipisahkan. Menjelang pergantian tahun pedagang terompet keliling mulai bermunculan dan tiba-tiba hilang setelah perayaan tahun baru lewat. Saat ini bentuk terompet yang dijual sangat bervariasi ada yang hanya kerucut lurus, berbentuk naga, ada juga yang berkelok-kelok persis terompet untuk konser music. Bahannya juga bervariasi, tidak hanya dari kertas, tetapi juga dari plastic. Perbedaan bentuk dan bahan menentukan  harganya juga.
Prinsip kerja terompet sebetulnya sangat sederhana, bunyi terompet berasal dari aliran udara yang menggetarkan membran kemudian menghasilkan suara. Dengan sedikit kreativitas dan meluangkan waktu tentunya, terompet dapat dibuat dengan barang-barang bekas.  Daripada membeli dengan harga cukup mahal, dan lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan barang bekas.
Bahan:
Dua botol plastic bekas ukuran berbeda tetapi ukuran lubangnya sama
Potongan pipa pralon ½ inch
Balon/plastic
Selang


cara membuat:

Sabtu, 17 Desember 2011

Sensasi baru membaca buku…


Buku mulai dikenal di Mesir  tahun 2400an dalam bentuk tulisan pada gulungan-gulungan kertas yang disebut dengan papirus.  Berabad-abad kemudian buku dalam bentuk kertas dari bahan dasar bamboo ditemukan  Cina.
            Teknologi pembuatan kertas berkembang dari Cina ke Eropa pada abad 11 Masehi dan semakin berkembang hingga diciptakannya mesin cetak oleh Gutenberg. Hadirnya teknologi catak dan produksi kertas telah menimbulkan revolusi sosial di Eropa.  Teknologi cetak yang berkembang saat itu menjadikan buku semakin mudah diakses oleh berbagai kalangan.  gagasan-gagasan kritis terhadap dominasi gereja dan kerajaan mulai disebarkan melalui buku. Dominasi gereja dan kerajaan sebagai pemegang otoritas agama dan kekuasaan mulai dipertanyakan dan mimicu terjadinya revolusi sosial. 

Minggu, 30 Oktober 2011

Dahon Roo D7, Curve D3, dan Vitesse P18

Perkenalan saya dengan sepeda lipat berawal tahun 2008. Saat itu pemakai sepeda lipat khususnya di Jogja masih sangat jarang.  Toko sepeda yang menujalnya pun masih stau dua tempat saja. Kalaupun ada paling sebatas toko-toko yang memang cukup besar seperti toko sepeda yang ada di Malioboro dan Gondomanan.  Seiring semakin populernya sepeda, virus sepeda lipat juga semakin mewabah. Terutama setelah salah satu pabrik sepeda merk lokal mulai membuat sepeda lipat. Sepeda lipat produk China juga semakin banyak dipasaran. 

Candi Abang, Gua Sentono, Gua Jepang

Sudah hampir dua bulan ini dengkul tidak diajak olah raga. Maklum situasi tidak memungkinkan karena ketidakjelasan domisili. Akhirnya pagi ini kesampaian juga ngobel bareng Blackko sepeda kesayanganku. Nama itu kuberikan karena warnanya BLACK dan pakai ban KOJAK. Niat untuk ngobel bersama Blakko memang sudah ada sejak beberapa hari sebelumnya. Tujuannya adalah Candi Abang. Kebetulan sedang pada ngadain inisiasi di tempat itu. Pagi rasanya malas bangun, karena aku baru tidur jam dua.sebetulnya jam lima pagi aku sudah bangun, namun rasanya masih berat untuk beranjak, padahal rencananya aku berangkat sepagi mungkin supaya tidak terlalu panas. Akhirnya aku baru bangun jam tujuh, dan setelah urusan beres-beres bisa beres akhirnya aku berangkat jam delapan.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kamis, 20 Oktober 2011

Mesin penyedot uang itu bernama Artos

Selain undangan dilarang masuk
Ada yang baru di Magelang  pada minggu pertama Oktober 2011 ini.  Artos (Armada Town Square) sebuah pusat perbelanjaan baru hadir di kota ini. Pagi itu sengaja saya meluangkan waktu untuk melihat bagaimana pembukaan mall itu berlangsung. Ketika saya datang, acara sudah berlangsung. Tampak beberapa orang yang berdiri di luar mall. Kebanyakan dari mereka adalah sopir-sopir yang menunggu tuannya  yang sedang mengikuti acara pembukaan di dalam. Pintu utama terbuka lebar, dengan dijaga oleh keamanan dan pegawai mall menjadikan tidak semua orang yang leluasa keluar masuk, kecuali para undangan. Dengan kaos oblong dan celana pendek jelas saya juga tidak bisa masuk menyaksikan acara itu. Dan memang bukan target saya untuk bisa ikut acara pembukaan. Saya memilih untuk berkeliling dan melihat-lihat kondisi di luar mall saja. 

Aku dan Motor Baru: Impresi pertama Yamaha New Scorpio Z

Akhirnya saya dan istri sepakat untuk membeli motor sport. Pertimbangan untuk ganti motor karena mobilitas saya belakangan ini yang cukup jauh, Megelang, Jogja, Gunung Kidul, Semarang. Motor bebek dan motor matik yang sudah ada rasanya kurang mumpuni untuk menembus rute tersebut. Rencananya motor bebek akan dijual, ganti dengan motor sport.   Datanglah kami ke dealer sepeda motor. Yamaha menjadi pilihannya karena produk motor sport merek lain tidak menarik. Semula kami sepakat untuk memilih Vixon. Namun ketika tiba di dealer mata saya tertuju pada satu motor sport yang tidak begitu lazim dilihat. Setelah didekati ternyata Scorpio. Wah ketinggalan berita nih ternyata Scorpio muncul dengan tampilan baru. Setelah diamat-amati ternyata cukup menggoda juga. Istri saya juga merasa lebih sreg scorpio daripada Vixion. Alasannya sadlenya lebih lebar jadi lega untuk bonceng istri yang posturnya di atas rata-rata (untuk tidak mengatakan gemuk…..heeee…).